Danielpekuwali’s Blog

ketakutan terbesar

Posted in Uncategorized by daniel pekuwali on August 21, 2009

Mungkin aku hanyalah seorang yang tak berdaya, yang hanya bisa melihat sesuatu tanpa bisa berbuat apa-apa. Pernah saya mengalami suatu kejadian, dimana pada waktu itu ada teman masa kecil saya meninggal karena kecelakaan. Budaya kami sebagai orang Sumba, setiap ada orang yang meninggal, kami selalu begadang semalam suntuk untuk menghibur keluarga yang ditinggal tersebut. Entah kami menyanyi atau sekedar duduk-duduk bercengkerama satu sama lainnya. Dan semuanya itu kami lakukan hanya semata-mata untuk menghibur.

Tapi kadang-kadang tempat tersebut dipakai orang sebagai ajang berjudi. Baik itu poker maupun dadu. Satu hal dalam diri saya yang sampai sekarang tidak pernah saya mengerti adalah ketakutan terhadap judi. Baik..!! orang orang boleh mengatakan bahwa saya berani berkelahi, berani berbicara, tapi ketika saya berhadapan yang namanya judi dengan segala bentuknya, saya sama sekali tak punya nyali.

Memang hampir semua bentuk permainan kartu saya tahu, tapi saya bermain semata-mata hanya untuk kesenangan atau sekedar pengisi waktu luang, dan memang saya cukup hebat dalam permainan seperti itu.

Tapi…ketika permainan itu sudah memakai taruhan, entah berapa besarnya, entah 100 perak ataupun dalam bentuk yang lain, nyaliku sudah mulai ciut.

Pernah, temanku mengajak main poker dengan taruhan kelereng. jadi taruhannya satu-satu. siapa yang kalah harus membayar satu kelereng pada yang menang. bayangkan saja, tanganku semuanya gemetar. aku tak bisa berpikir dengan baik, sampai-sampai aku selalu salah dalam membuang kartu. yah..itulah saya..katakutan terbesar yang pernah saya alami adalah ketika saya bermain judi. Aku tak tahu kekuatan apa yang ada dalam diri saya, sehingga ketika saya berhadapan dengan semua itu, tubuhku seperti diguncang gempa berskala 10 skala ritcher.

Memang kita tahu bersama,banyak negara yang melarang perjudian sampai taraf tertentu, Karena perjudian mempunyai konsekwensi sosial kurang baik, dan mengatur batas yurisdiksi paling sah tentang undang-undang berjudi sampai taraf tertentu.

Beberapa Negara-negara Islam melarang perjudian, hampir semua negara-negara mengatur itu. Kebanyakan hukum negara tidak mengatur tentang perjudian, dan memandang sebagai akibat konsekwensi masing-masing, dan tak dapat dilaksanakan oleh proses yang sah sebagai undang-undang. Dengan begitu organisasi kriminal sering mengambil alih penyelenggaraan dari hutang perjudian besar, kadang-kadang menggunakan metoda yang kejam.

Dewasa ini, berbagai macam dan bentuk perjudian sudah demikian merebak dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, baik yang bersifat terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi. Bahkan sebagian masyarakat sudah cenderung permissif dan seolah-olah memandang perjudian sebagai sesuatu hal wajar, sehingga tidak perlu lagi dipermasalahkan. Sehingga yang terjadi di berbagai tempat sekarang ini banyak dibuka agen-agen judi togel dan judi-judi lainnya yang sebenarnya telah menyedot dana masyarakat dalam jumlah yang cukup besar. Sementara itu di sisi lain, memang ada kesan aparat penegak hukum kurang begitu serius dalam menangani masalah perjudian ini. Bahkan yang lebih memprihatinkan, beberapa tempat perjudian disinyalir mempunyai becking dari oknum aparat keamanan.

Pada hakekatnya, perjudian adalah perbuatan yang bertentangan dengan norma agama, moral, kesusilaan maupun hukum, serta membahayakan bagi penghidupan dan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Ditinjau dari kepentingan nasional, penyelenggaraan perjudian mempunyai ekses yang negatif dan merugikan terhadap moral dan mental masyarakat, terutama terhadap generasi muda.
Perjudian merupakan salah satu penyakit masyarakat yang menunggal dengan kejahatan, yang dalam proses sejarah dari generasi kegenerasi ternyata tidak mudah diberantas. Oleh karena itu perlu diupayakan agar masyarakat menjauhi melakukan perjudian, perjudian terbatas pada lingkungan sekecil-kecilnya dan terhindarnya ekses-ekses negatif yang lebih parah untuk akhirnya dapat berhenti melakukan perjudian.

Dalam perspektif hukum, perjudian merupakan salah satu tindak pidana (delict) yang meresahkan masyarakat. Sehubungan dengan itu, dalam Pasal 1 UU No. 7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian dinyatakan bahwa semua tindak pidana perjudian sebagai kejahatan.

Mengingat masalah perjudian sudah menjadi penyakit akut masyarakat, maka perlu upaya yang sungguh-sungguh dan sistematis, tidak hanya dari pemerintah dan aparat penegak hukum saja, tetapi juga dari kesadaran hukum dan partisipasi masyarakat untuk bersama-sama dan bahu membahu menanggulangi dan memberantas semua bentuk perjudian.

Connie

Posted in Uncategorized by daniel pekuwali on April 16, 2009

Tubuh bisa membuat getar, tapi juga gentar, seperti lautan.

Saya ingat satu pasase dalam Lady Chatterley’s Lover: perempuan itu mengalami ajaibnya gairah dalam persetubuhan. Dalam pagutan berahi kekasihnya, ia merasa diri “laut”. Ia deru dan debur, samudra dengan gelombang gemuruh yang tak kunjung putus. ” Ah, jauh di bawah, palung-palung terkuak, bergulung, terbelah….”

Apa yang masuk menyusup kedalam dirinya ia rasakan kian lama kian dalam. Bertambah berat empasan, bertambah jauh pula ia jadi segara yang berguncang sampai di sebuah pantai. Baru di sini deru reda, laut lenyap. “Ia hilang, tak ada, dan ia di lahirkan: seorang perempuan.”

Saya tak sanggup menerjemahkan seluruh pasase ini. Di sini D.H. Lawrence sungguh piawai: ia uraikan suasana erotik dalam novelnya dalam kalimat dengan ritme yang naik-turun, membawa kita masuk ke paduan imaji-imaji yang,seperti gerak laut, tak putus-putus, berulang-ulang….

Agaknya Lawrence, seperti kita semua, harus mengerahkan seluruh kemampuan bahasa untuk menggambarkan sesutu yang mungkin tak tergambarkan: pengalaman tubuh ketika belum siap’ gejolak zat-zat badan ketika bahasa belum menemukan pikiran.

Seorang sastrawan memang selalu dirundung bahasa yang ingin ekspretif tapi juga ingin komunikatif – dua doronganyang sebenarnya bertolak belakang. Yang pertama dituntut untuk mengungkapkan langsung apan yang berkecamuk di lubuk kesadaran, yang tak selamanya jelas dan urut. Yang kedua diminta agar berarti: sesuai dengan kesepakatan sosial dan membawa hasil.

Lady Chatterley’s Lover memang sebuah kritik sosial ; ia hendak meyakinkan kita tentang muramnya masyarakat Inggris sehabis perang pada 1920-an. “Zaman kita pada hakikatnya zaman yang tragis, maka kita menolak untuk menyikapinya dengan dengan tragis,” begitulah novel ini di mulai. ” kita ada di tengah puing, kita mulai membangun habitat kecil-kecilan, untuk mendapat harap baru sedikt-sedikit.”

Kritik novel ini tersirat dalam tokoh Costance Chatterley. Ia kawin dengan Sir Clifford, tuan tanah dan bangsawan pemilik tambang. Lelaki itu luka dalam perang. Ia bukan saja lumpuh, juga impoten, dan hanya menunjukkan kelebihannya bila ia mulai memimpin bisnisnya. Tampaknya perang, industrialisasi, kapitalisme- dan patriarki menebar racunnya dan membuat hidup perempuan itu, Lady Constance (“Connie”), terpojok. Kesepian, bosan, hampa, dan tertindas, ia akhirnya menemukan kembali gairah hidup sebagai perempuan ketika ia disetubuhi Melleors, game keeper Sir Clifford, lelaki yang tinggal menyendiri di sebuah gubuk di tanah luas itu, mengurusi burung-burung yangesok pagi akan dilepaskan terbang untuk jadi sasaran tembak sang majikan.

Connie hamil dari hubungan gelap itu. Tapi ia takut. Ia memang menghendaki seorang anak, meskipun percintaannya dengan lelaki kelas bawah itu bukan dimaksudkannya untuk beroleh keturunan. “Aku bukan hendak memperalatmu,” bisiknya di tempat tidur. Mereka saling mencintai. Pada akhirnya Connie minta cerai dari Sir Clifford, tapi ditampik. Kisah ini selesai seperti tak selesai: connie dan Melleors menanti.

Agaknya apa selanjutnya tak penting lagi: protes sudah disampaikan, bahkan dijalani dengan perbuatan, dan tak seorangpun dihukum. ” Bukan salah perempuan, bukan salah percintaan, bukan salah seks,” begitulah novel ini bicara. ” Kesalahan itu di sana, di luar sana , dalam sinar keji cahaya listrik dan gemeretak iblis mesin-mesin. Di sana, di dunia di mana kerakusan bergerak seperti mesin….dan kerakusan menghasilkan mesin…di sanalah terhampar mala yang luas itu, siap untuk menghancurkan apa saja yang tak mau menyesuaikan diri. Ia akan segera menghancurkan hutan, dan bunga kecubung ini tak akan bersemi lagi”.

Dibaca pada awal abad ke-21, protes seprti ini – ketika yang erotik, yang lemah, dan yang halus dalam diri manusia diancam dunia modern – tak mengejutkan lagi. Bahkan bahasa Lawrence juga segaris dengan kehendak dunia modern yang di tentangnya, yang seba mengutamakan pikiran dan hasil, bukan persentuhan yang melibatkan tubuh dalam pengalaman. Tapi juga ketika dibaca pada awal abad ke-20: Lady Chatterley’s Lover hanya dianggap karya pornografis. Ditolak dimana-mana, pada 1928, hanya seorang penerbit Italia yang menerimanya; ia tak begitu paham bahasa Inggris.

Dengan segera novel ini laris dan dikejar-kejar. Yang paling ramai di AS, dengan warisan puritanisme Kristen yang awet dan semangat kapitalisme yang, seperti yang digambarkan Lawrence, “rakus…seperti mesin” itu, yang melihat tubuh perlu berdisiplin baja dan gairah seks sebagai “dosa”, yakni energi yang produktif.

Maka pemilik toko buku yang menjual Lady Chatterley’s Lover pun dibui, kantor pos menolak mengirimkan novel itu, dan Presiden Eisenhower menganggapnya bacaan yang “dreadful“. Baru pada akhir 1950-an pengadilan menganggap karya itu tidak pornografis.

Anehkah bila bertemu agama dan kapitalisme, juga komunisme, yang rezim-rezimnya melarang Lady Chatterley’s Lover? Tidak. Bagi meraka, tubuh kita hanya penting sepanjang bisa dibuat berguna bagi yang mahakuasa, apapun namanya.

***************

Tulisan saya kutip langsung dari majalah Tempo edisi November 2008. Saya tertarik dangan tulisan ini karena ini merupakan catatan pinggir yang ditulis oleh Goenawan Mohamad.

Goenawan Mohamad adalah seorang intelektual yang punya wawasan yang begitu luas, mulai pemain sepak bola, politik, ekonomi, seni dan budaya, dunia perfilman, dan musik. Pandangannya sangat liberal dan terbuka. Seperti kata Romo Magniz-Suseno, salah seorang koleganya, lawan utama Goenawan Mohamad adalah pemikiran monodimensional.

Pendiri dan mantan pemimpin redaksi majalah Tempo (didirikan pada 1971) ini, merupakan seseorang yang selalu saya banggakan. Saya tertarik dangan jiwa seni dan lebih-lebih pada jiwa kritis yang ada dalam dirinya. Pada 1994 majalah yang dipimpinnya dilarang terbit oleh Soeharto karena diangap oposisi, hal ini dikarenakan Goen (panggilan akrab Goenawan) selalu mengkritisi rezim Soeharto. Ya..!!! itu salah satu alasan mengapa saya sangat mengagumi sosok yang satu ini.

Saya teringat ketika saya mengikuti aksi demonstrasi solidaritas untuk petani Pati di depan kantor Walikota Salatiga, pada Februari lalu. Waktu itu teman sefakultas saya melihat saya berjalan memegang cangkul, dari ujung kepala sampai kaki dilumuri sanwich warna putih, tanpa alas kaki. Saya terlihat seperti Hanoman yang ingin ke sawah…hehehehe…

” Kenapa kamu susah-susah kayak orang gila” kata temanku. ” Mending kamu tinggal di rumah atau di kos, daripada kamu membuang waktu dengan hal yang tidak penting seperti ini” ini adalah kata-kata yang pernah diucapnya yang tak pernah hilang dari benakku.

Hei…!!!???

Aku bertanya dalam hati…beginikah cara pandang Mahasiswa saat ini? Apa yang dipikir mereka saat ini? Kuliah? Belajar? Makan? Jodoh? Atau..???

Sama halnya ketika saya mengajak teman-teman seangkatan saya untuk menghidupkan kembali Forum Diskusi Pertanian ( forum diskusi di fakultas saya, pertanian), tak ada satupun yang bisa. Mereka punya alasan yang sangat klasik: “wah..,sebenarnya saya mau ikut, tapi laporan praktikum belum dibuat”. Atau: ” tugas banyak…jadi saya tidak bisa hadir”.

Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri. Dalam otak mereka telah tertanam: “kuliah..pulang..makan..dan tugas..”. Sangat disayangkan memang, mahasiswa yang dulunya dikenal dengan jiwa kritisnya, kini hanya sibuk dengan diriya sendiri.

Mereka berpikir bahwa mengikuti kegiatan seperti itu hanya membuang-buang waktu saja. Mereka tidak berpikir bahwa hal-hal seperti itulah yang dapat menambah wawasan mereka, yang menambah pengetahuan mereka selain ilmu yang mereka dapat dari bangku perkuliahan.

Mau di kemanakan negara ini, jika jiwa kritis seperti Goenawan Mohamad jauh dari kehidupan mahasiswa saat ini?

Apakah mereka hanya bisa menjadi penonton ketika ada orang yang menjual negara ini? Apakah mereka hanya bisa mengiyakan ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tidak memihak pada rakyat atau dirinya sendiri?

Mana semangatmu yang dulu..? Yang menyatukan bangsa ini dengan sumpahmu..

Mana semangatmu yang dulu..? Yang memerdekakan bangsa ini dari tirani penjajahan..

Mana semangatmu yang dulu..? Yang mampu menggulingkan rezim Orde Baru yang otoriter..

Apakah semua itu telah hilang..? Musnah.. ditelan waktu dan perubahan jaman..?

Perjuangan masih panjang..bangsa ini membutuhkan semangatmu seperti yang dulu………………..

sajak cinta seorang pecinta

Posted in Uncategorized by daniel pekuwali on April 13, 2009

Apalah arti kekayaan jika cinta yang menyebabkan aku merindu tak kumiliki.

Apalah Arti Istana yang megah, bila tak ada tempat untuk jiwaku untuk berteduh dan bersandar

Untuk apa dikelilingi putri-putri raja, bila cinta yang telah ku rasakan telah memenjarakan hatiku, dan telah membutakan mataku atas segala keindahannya.

Dalam setiap lamunan aku meyakinkan diri , kekasih yang kudamba dapat menghadirkan senyum kebahagiaan dalam hatiku, menanggalkan kesedihan yang selalu membayang ,menjadi cahaya kehidupan serta pelipur lara bagi jiwaku.

Laksana kaum pencinta , airmataku yang bening dan jernih menetes karena merindukan kasih yang tak kunjung datang…

Dan kulihat disana -disaat dirimu pergi, kumbang-kumbang pasti menemani , seolah ingin memungut sisa-sisa pesonamu , mereka berlomba-lomba menarik perhatian sang bunga, diantara mereka ada yang berusaha memenangkan cinta dalam penyamaran adapula berterus-terang dalam “ketelanjangan”… mereka hendak berusaha menawan hati bunga nirwana itu.

Saat menatap wajahmu , seolah ribuan kata ingin keluar dari bibirku, namun apalah daya bibir tak mampu mampu bergerak untuk melukiskan keagungan cinta. Nyala api asmara dalam hatiku semakin lama semakin berkobar, kebiasaanku kini hanya melamun dan merangkai syair yang menceritakan segala tentangmu…

Duhai kekasih….disaat cinta telah mengakar didalam jiwa, serta dari waktu ke waktu cinta itu telah tumbuh subur dikedalaman hati, kuingin rasa itu hanya kita yang tahu…tahukah engkau kekasih, tidak ada obat yang mujarab mengobati luka bila tertusuk duri asmara…maka hargailah dia yang mengasihimu dan diriku yang mencintaimu .

Duhai kekasih hati, dirimu telah kuikat sebagai tawanan cinta diseberang lautan, dimana tiada suatu wujudpun yang dapat menyembunyikan dirimu dari jiwaku… Melalui pancaran mata, jiwa kita seolah menyatakan tidak ingin berpisah , Engkaulah pasangan bagi jiwaku, ruh yang kekal dan abadi…bila panah cinta telah menghujam hati dan jantung- disana engkau akan mendengar suara bathin kita melantunkan bait-bait cinta yang dihiasi oleh senyum dan tangis rindu….

Disaat jiwa kita merasa malu-malu menggapai cinta, lidah terasa kelu,dan tiada kata yang terucap dari bibir, disitulah cinta memandang dari kedalaman jiwa, ..disaat kita saling menatap, maka sabda jiwa kita -tak mampu menyembunyikan cinta dari hati.

Dalam cinta keindahan menyimpan kepahitan, dan dalam setiap kegetiran terdapat selubung kebahagiaan.

Rasa dimana kita tak dapat membedakan lagi antara siang dan malam, seolah kita berada dalam taman surgawi yang terbebas dari ruang dan waktu…

Wahai kekasih hati, berjanjilah pada keagungan cinta agar sayapmu dapat terbang bebas dan melayang bersama ketulusan cinta, walau banyak racun yang harus kita teguk …

Atas nama cinta , racun yang pahit pun terasa manis….

Bertahanlah kekasihku, dunia diciptakan untuk kaum pencinta…Dunia ada karena cinta….cinta adalah pembebas dari segala belenggu…dan jiwa pencinta akan memberi kehidupan baru bagi kehidupan yang lain.

*****

Sajak ini ku kirimkan buat kekasihku melalui facebook saat dia merasa cinta telah menyiksanya. Aku ingin meyakinkannya bahwa cinta bisa membuat hidupnya lebih berarti.

Aku jadian dengannya pada 6 April yang lalu, selesai final sepakbola antara FTI dan Fakultas Teologi (POM se-Salatiga). Aku mengungkapkan perasaanku di pinggir lapangan sepakbola UKSW. Singkatnya, dia menerima cintaku dan kita resmi berpacaran sejak saat itu.

Aku sangat mencintainya. Bahkan saat dia mengatakan, bahwa dia masih menyayangi kekasihnya yang dulu, perasaanku padanya tak berubah sampai saat ini. Aku mencintainya dengan semua masalah-masalah yang ada padanya.

Terkadang aku merasa ragu akan cintanya padaku, apa lagi setiap bertemu denganku dia selalu mengatakan bahwa dia masih mencintai kekasihnya yang dulu, tapi aku selalu berusaha menepis rasa ini jauh-jauh. ya…!! Aku sangat mencintainya…aku begitu mencintainya, sampai-sampai rasa sakit yang dia berikan padaku, terhapus oleh besarnya cintaku padanya..

Terkadang aku merasa bingung…di sisi lain dia memberikan aku segala yang ada pada dirinya, dan di sisi lainnya hatiku terluka oleh perasaannya…Apakah cinta ini telah membutakanku..?? Ataukah ini hanya permainan sang waktu..???

” Cinta telah menyiksaku ” katanya.

one-love2Dalam hati aku bertanya, apakah ada cinta yang menyiksa? yang aku tahu cinta selalu membawa pendamaian dalam hati dan kehidupan. Mungkin orang lain akan mengatakan, bahwa cinta telah membunuh mereka, hanya karena telah disakiti. Tapi semua itu hanya ujian cinta..sama seperti yang aku alami. Aku pernah disakiti, pernah dikhianati, dan aku terluka. Tapi aku tak pernah mengatakan bahwa cinta yang cinta yang menyakitiku, cinta yang mengkhianatiku. Ini hanya resiko yang harus kita hadapi, ketika kita mengambil keputusan untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Suka ataupun tidak suka, kita harus menerima semua itu, karena kita tidak bisa memaksakan orang lain untuk mencintai kita sepenuhnya.Di balik semua itu, cinta hendak mencari tahu, seberapa besar kita memilikinya (cinta), seberapa kuat cinta yang kita miliki.

Kekuatan cintalah yang membuat aku bertahan untuk mencintainya, yang membuat aku tidak egois dengan memikirkan perasaanku sendiri.

Aku sadar dan yakin bahwa saat ini hatinya sedang rapuh. Dan menjadi kewajibanku untuk menjadi pundak ketika dia butuh sandaran dari penatnya, untuk menjadi bulan yang menyinari malam-malamnya, menjadi bintang yang menemani mimpi-mimpi indahnya.Untuk menjadi embun yang menyejukkan hatinya, dan menjadi pelangi yang memberi warna hari-harinya, karena aku mencintainya…Sangat mencintainya…….

Hello world!

Posted in Uncategorized by daniel pekuwali on December 14, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.