Danielpekuwali’s Blog

Connie

Posted in Uncategorized by daniel pekuwali on April 16, 2009

Tubuh bisa membuat getar, tapi juga gentar, seperti lautan.

Saya ingat satu pasase dalam Lady Chatterley’s Lover: perempuan itu mengalami ajaibnya gairah dalam persetubuhan. Dalam pagutan berahi kekasihnya, ia merasa diri “laut”. Ia deru dan debur, samudra dengan gelombang gemuruh yang tak kunjung putus. ” Ah, jauh di bawah, palung-palung terkuak, bergulung, terbelah….”

Apa yang masuk menyusup kedalam dirinya ia rasakan kian lama kian dalam. Bertambah berat empasan, bertambah jauh pula ia jadi segara yang berguncang sampai di sebuah pantai. Baru di sini deru reda, laut lenyap. “Ia hilang, tak ada, dan ia di lahirkan: seorang perempuan.”

Saya tak sanggup menerjemahkan seluruh pasase ini. Di sini D.H. Lawrence sungguh piawai: ia uraikan suasana erotik dalam novelnya dalam kalimat dengan ritme yang naik-turun, membawa kita masuk ke paduan imaji-imaji yang,seperti gerak laut, tak putus-putus, berulang-ulang….

Agaknya Lawrence, seperti kita semua, harus mengerahkan seluruh kemampuan bahasa untuk menggambarkan sesutu yang mungkin tak tergambarkan: pengalaman tubuh ketika belum siap’ gejolak zat-zat badan ketika bahasa belum menemukan pikiran.

Seorang sastrawan memang selalu dirundung bahasa yang ingin ekspretif tapi juga ingin komunikatif – dua doronganyang sebenarnya bertolak belakang. Yang pertama dituntut untuk mengungkapkan langsung apan yang berkecamuk di lubuk kesadaran, yang tak selamanya jelas dan urut. Yang kedua diminta agar berarti: sesuai dengan kesepakatan sosial dan membawa hasil.

Lady Chatterley’s Lover memang sebuah kritik sosial ; ia hendak meyakinkan kita tentang muramnya masyarakat Inggris sehabis perang pada 1920-an. “Zaman kita pada hakikatnya zaman yang tragis, maka kita menolak untuk menyikapinya dengan dengan tragis,” begitulah novel ini di mulai. ” kita ada di tengah puing, kita mulai membangun habitat kecil-kecilan, untuk mendapat harap baru sedikt-sedikit.”

Kritik novel ini tersirat dalam tokoh Costance Chatterley. Ia kawin dengan Sir Clifford, tuan tanah dan bangsawan pemilik tambang. Lelaki itu luka dalam perang. Ia bukan saja lumpuh, juga impoten, dan hanya menunjukkan kelebihannya bila ia mulai memimpin bisnisnya. Tampaknya perang, industrialisasi, kapitalisme- dan patriarki menebar racunnya dan membuat hidup perempuan itu, Lady Constance (“Connie”), terpojok. Kesepian, bosan, hampa, dan tertindas, ia akhirnya menemukan kembali gairah hidup sebagai perempuan ketika ia disetubuhi Melleors, game keeper Sir Clifford, lelaki yang tinggal menyendiri di sebuah gubuk di tanah luas itu, mengurusi burung-burung yangesok pagi akan dilepaskan terbang untuk jadi sasaran tembak sang majikan.

Connie hamil dari hubungan gelap itu. Tapi ia takut. Ia memang menghendaki seorang anak, meskipun percintaannya dengan lelaki kelas bawah itu bukan dimaksudkannya untuk beroleh keturunan. “Aku bukan hendak memperalatmu,” bisiknya di tempat tidur. Mereka saling mencintai. Pada akhirnya Connie minta cerai dari Sir Clifford, tapi ditampik. Kisah ini selesai seperti tak selesai: connie dan Melleors menanti.

Agaknya apa selanjutnya tak penting lagi: protes sudah disampaikan, bahkan dijalani dengan perbuatan, dan tak seorangpun dihukum. ” Bukan salah perempuan, bukan salah percintaan, bukan salah seks,” begitulah novel ini bicara. ” Kesalahan itu di sana, di luar sana , dalam sinar keji cahaya listrik dan gemeretak iblis mesin-mesin. Di sana, di dunia di mana kerakusan bergerak seperti mesin….dan kerakusan menghasilkan mesin…di sanalah terhampar mala yang luas itu, siap untuk menghancurkan apa saja yang tak mau menyesuaikan diri. Ia akan segera menghancurkan hutan, dan bunga kecubung ini tak akan bersemi lagi”.

Dibaca pada awal abad ke-21, protes seprti ini – ketika yang erotik, yang lemah, dan yang halus dalam diri manusia diancam dunia modern – tak mengejutkan lagi. Bahkan bahasa Lawrence juga segaris dengan kehendak dunia modern yang di tentangnya, yang seba mengutamakan pikiran dan hasil, bukan persentuhan yang melibatkan tubuh dalam pengalaman. Tapi juga ketika dibaca pada awal abad ke-20: Lady Chatterley’s Lover hanya dianggap karya pornografis. Ditolak dimana-mana, pada 1928, hanya seorang penerbit Italia yang menerimanya; ia tak begitu paham bahasa Inggris.

Dengan segera novel ini laris dan dikejar-kejar. Yang paling ramai di AS, dengan warisan puritanisme Kristen yang awet dan semangat kapitalisme yang, seperti yang digambarkan Lawrence, “rakus…seperti mesin” itu, yang melihat tubuh perlu berdisiplin baja dan gairah seks sebagai “dosa”, yakni energi yang produktif.

Maka pemilik toko buku yang menjual Lady Chatterley’s Lover pun dibui, kantor pos menolak mengirimkan novel itu, dan Presiden Eisenhower menganggapnya bacaan yang “dreadful“. Baru pada akhir 1950-an pengadilan menganggap karya itu tidak pornografis.

Anehkah bila bertemu agama dan kapitalisme, juga komunisme, yang rezim-rezimnya melarang Lady Chatterley’s Lover? Tidak. Bagi meraka, tubuh kita hanya penting sepanjang bisa dibuat berguna bagi yang mahakuasa, apapun namanya.

***************

Tulisan saya kutip langsung dari majalah Tempo edisi November 2008. Saya tertarik dangan tulisan ini karena ini merupakan catatan pinggir yang ditulis oleh Goenawan Mohamad.

Goenawan Mohamad adalah seorang intelektual yang punya wawasan yang begitu luas, mulai pemain sepak bola, politik, ekonomi, seni dan budaya, dunia perfilman, dan musik. Pandangannya sangat liberal dan terbuka. Seperti kata Romo Magniz-Suseno, salah seorang koleganya, lawan utama Goenawan Mohamad adalah pemikiran monodimensional.

Pendiri dan mantan pemimpin redaksi majalah Tempo (didirikan pada 1971) ini, merupakan seseorang yang selalu saya banggakan. Saya tertarik dangan jiwa seni dan lebih-lebih pada jiwa kritis yang ada dalam dirinya. Pada 1994 majalah yang dipimpinnya dilarang terbit oleh Soeharto karena diangap oposisi, hal ini dikarenakan Goen (panggilan akrab Goenawan) selalu mengkritisi rezim Soeharto. Ya..!!! itu salah satu alasan mengapa saya sangat mengagumi sosok yang satu ini.

Saya teringat ketika saya mengikuti aksi demonstrasi solidaritas untuk petani Pati di depan kantor Walikota Salatiga, pada Februari lalu. Waktu itu teman sefakultas saya melihat saya berjalan memegang cangkul, dari ujung kepala sampai kaki dilumuri sanwich warna putih, tanpa alas kaki. Saya terlihat seperti Hanoman yang ingin ke sawah…hehehehe…

” Kenapa kamu susah-susah kayak orang gila” kata temanku. ” Mending kamu tinggal di rumah atau di kos, daripada kamu membuang waktu dengan hal yang tidak penting seperti ini” ini adalah kata-kata yang pernah diucapnya yang tak pernah hilang dari benakku.

Hei…!!!???

Aku bertanya dalam hati…beginikah cara pandang Mahasiswa saat ini? Apa yang dipikir mereka saat ini? Kuliah? Belajar? Makan? Jodoh? Atau..???

Sama halnya ketika saya mengajak teman-teman seangkatan saya untuk menghidupkan kembali Forum Diskusi Pertanian ( forum diskusi di fakultas saya, pertanian), tak ada satupun yang bisa. Mereka punya alasan yang sangat klasik: “wah..,sebenarnya saya mau ikut, tapi laporan praktikum belum dibuat”. Atau: ” tugas banyak…jadi saya tidak bisa hadir”.

Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri. Dalam otak mereka telah tertanam: “kuliah..pulang..makan..dan tugas..”. Sangat disayangkan memang, mahasiswa yang dulunya dikenal dengan jiwa kritisnya, kini hanya sibuk dengan diriya sendiri.

Mereka berpikir bahwa mengikuti kegiatan seperti itu hanya membuang-buang waktu saja. Mereka tidak berpikir bahwa hal-hal seperti itulah yang dapat menambah wawasan mereka, yang menambah pengetahuan mereka selain ilmu yang mereka dapat dari bangku perkuliahan.

Mau di kemanakan negara ini, jika jiwa kritis seperti Goenawan Mohamad jauh dari kehidupan mahasiswa saat ini?

Apakah mereka hanya bisa menjadi penonton ketika ada orang yang menjual negara ini? Apakah mereka hanya bisa mengiyakan ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tidak memihak pada rakyat atau dirinya sendiri?

Mana semangatmu yang dulu..? Yang menyatukan bangsa ini dengan sumpahmu..

Mana semangatmu yang dulu..? Yang memerdekakan bangsa ini dari tirani penjajahan..

Mana semangatmu yang dulu..? Yang mampu menggulingkan rezim Orde Baru yang otoriter..

Apakah semua itu telah hilang..? Musnah.. ditelan waktu dan perubahan jaman..?

Perjuangan masih panjang..bangsa ini membutuhkan semangatmu seperti yang dulu………………..

Advertisement

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Joy said, on April 19, 2009 at 10:10 pm

    Siip’s

  2. shinta sabaora said, on April 20, 2009 at 9:23 am

    luar biasa……. itulah kata2 yang bisa terucap setelahh mmabaca tulisan diatas….

    mahasiswa jauh dari jiwa kritis yang dikenal dulu, sekarang yang dekat dengan mahasiswa adalah jiwa krisis… krisis peka (tidak peka dengan lingkungan), krisis rasa (tidak peduli dengan yang lain, yang penting diri sendiri senang), krisis ide, tidak mampu dan tidak mbrani emunculkan inovasi2 baru yang sebenarnya mereka punya dan apabila dikembangkan hasilny aluar biasa… yg paling parahh KRISIS AKHIR BULAN… jadiii mending di kos saja dari pada ikutan demo dapatnya cuma air mineral, pulang lapar lemas dechhh hahahhahha…

    luar biasa ketika masi ad ajuga generasi muda seperti penulis yang masiii peduli dengan yang lainn apalagii kaum minoritas yangterpinggirkan,,, hehehhehehehehhe

    MANTAP MAS….. LANJUTKAN……heheheh

  3. zoe said, on April 20, 2009 at 9:39 am

    ini tulisan kamu sendiri atau copy paste?
    kalau kopy paste mbok ya di kasih nama si penulisnya biar gak bermasalah..
    ok…

  4. daniel pekuwali said, on April 21, 2009 at 1:58 pm

    @zoe : lihat dan simak..disana ada nama penulisnya..dan alasan kenapa saya menulis rulisan ini..

    @Joy: apanya yang sip..???saya butuh komentar(ttg bahasanya, struktur kalimatnya, dll)..bukan pujian..karena saya masih banyak belajar…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.